Jumat, 19 Februari 2010

kisah

MALAIKATPUN MENANGIS
Oleh: Sarwan kelana Al-Alaiyi
Wahai saudaraku, sungguh hidup ini hanya sekali maka berbuatlah yang terbaik, hidup mati ditangan Allah, kasih dan sayang hanya milik Allah. Saudaraku mari kita merenung sejenak untuk membaca sebuah kisah yang mana kisah ini membuat para malikat menangis kisah apakah itu? Kisah kasih sayang nya Allah kepada hambanya dan kasih sayangnya hamba kepada sesamanya. Hayatilah, renungkanlah seolah-olah kita berada di dua posisi itu.
Suatu ketika Nabi Isa a.s. Berkata kepada ibunya, Bu dunia ini hanya sementara , sedangkan akhirat itu kekal. Untuk itu marilah kita berangkat kesebuah bukit di lebanon untuk beribadah kepada Allah dan berpuasa di siang hari dan sholat di malam harinya. Persediaan sudah ada di sana berupa daun-daunan dan air hujan untuk kita minum,”
Alkisah, akhirnya mereka berangkat dan menetap cukup lama di bukit itu dengan beribadah, makan dan minum yang ada. Akhirnya pada suatu hari nabi Isa seperti hari-hari biasa pergi menuruni jurang untuk mengambil dedaunan untuk di jadikan makanan pada saat berbuka nanti. Pada saat itulah Malaikat maunt datang menemui ibunya, setelah mengucapkan salam sang Malaikat berkata ”Hai Maryam yang tekun bepuasa di siang hari dan beribadah di malam hari!”
”Sebenarnya kamu ini siapa?” tanya Maryam, sekujur tubuhku bergetar mendengar suaramu dan pikiranku merancau melihat wibawamu”lanjut ibu nabi isa.
”Aku ini yang tidak punya kasihan terhadap anak karna kecilnya, tidak hormat pada yang besar karna dewasanya, akulah yang bertugas mencabut nyawa.”
”Malaikat maut apakah kedatanganmu kepadaku hanya berkunjung atau hendak mencabut nyawaku?”tanya ibu nabi isa
”Siapkah dirimu untuk menghadapi maut?”
”Maukah kamu memberi tempo barang sebentar saja? Aku sedang menanti kedatangan kekasih dan buah hatiku, permata dan penawar kegelisahan hatiku?”pinta ibu nabi isa kepada Malaikat
”Semuanya bukan aku yang menentukan . aku hanyalah seorang hamba Allah, aku tidak kuasa untuk mencabut nyawa seekor nyamukpun tampa seizin Allah. Aku tidak akan menunda sedetikpun untuk mencabutnyawamu di tempat ini”.kata Malaikat maut
”Malaikat maut kamu telah di percaya untuk mengemban tugas, maka kerjakanlah tugasmu itu”sahut Maryam
Begitulah percakapan antara Malaikat maut dengan ibunya nabi isa ketika nabi isa sedang mencari makanan untuk berbuka. Malaikat mautpun kemudian mencabut nyawa Maryam. Nabi isa datang terlambat, lalu menaiki bukit dan membawa dedaunan dan kubis di tangan nya, beliau tidak mengetahui kalu ibunya telah meninggal. Ketika melewati mihrab ibunya dan memandang ibunya masih berdiri di situ beliau mengira ibunya sedang melaksanakan sholat fardu,setelah itu beliau meletakkan makan di samping ibunya, dan beliaupun beribadah.
Seusai beribadah, beliau memandang ibunya dan memanggil dengan penuh kasih dari lubuk hati yang paling khusuk. ”Salam sejah tera wahai ibuku, waktu kini telah malam sekarang tibalah saatnya berbuka bagi yang berpuasa serta tiba juga saatnya untuk beribadah kenapa ibu hanya berdiam diri tampa melakukan semua itu seperti biasa?”begitulah cara nabi isa memanggil ibunya
Setelah sekian lama menunggu dan tidak ada reaksi dari sang ibu, nabi isa pun kembali beribadah.”mungkin ibu sedang tidur”kata nabi isa. Setelah beribah dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada ibunya, beliaupun memanggil lagi ibunya dengan suara yang penuh kasih.”Salam sejahtera wahai ibuku, malam makin larut?”
Namun ibunya tidak bereaksi sedikitpun, nabi isa kembali lagi untuk melanjutkan ibadahnya hingga fajar dia mengira sang ibu masih tidur. Kemudian beliau meletakkan pipinya pada pipi dan mulut ibunya, beliaupun memanggil seraya menangis ”salam sejahtera wahai ibuku, waktu malam telah lewat kini waktu fajar menghampiri tiba saatnya untuk sahur dan ibadah sholat kepada Tuhan yang maha pemurah”.
Melihat kejadian itu para Malaikat dan Jin pun menangis, dan Bukit-bukit di sekitarnya bergema. Malihat hal itu Allah lalu menguji para Malaikat ”Mengapa kalian menangis?”tanya Allah
Ya Allah sungguh engkau maha mengetahui”jawab para Malaikat. Kemudian Allah berfirman ” sungguh aku maha mengetahu lagi maha penyayang”
Tiba-tiba ada suara, ”Isa angkatlah kepalamu. Ibumu sekarang telah wafat dan Allah memberimu pahala yang besar”. Nabi Isa pun mengangkat kepalanya sambil menangis terisak-isak. ”Siapakah yang akan menyertaiku pada saat sunyi dan sendirian? Siapakah yang akan menghiburku di perantauan ini? Siapa pula yang membantuku dalam beribadah?”kata isa ketika itu
Kemudian Allah menyampaikan wahyu kepada bukit untuk menasihatinya,”Isa apa yang kamu risaukan? Tidak inginkah kamu jika Allah yang menjadi penghiburmu?”kemudian beliaupun turun dari bukit menuju perkampungan bani israil, sesudah menyampaikan salam beliau menjumpai mereka.
”Siapa kamu ini? Wajahmu begitu bersinar hingga menerangi Rumah-rumah kami? Tanya bani Israil kepada nabi isa as.
”Aku adalah Ruh Allah. Aku ini nabi isa as, ibuku telah wafat dalam perantaun, sudikah kalian membantuku mengurusi jenazahnya?kata nabi isa
Ma’af ya Ruh Allah. Bukit itu banyak sekali di huni oleh Ular besar dan binatang yang buas, selama 300 tahun leluhur kami tidak berani menjamahnya,kata mereka. Miskipun dengan kecewa beliau kembali menaiki bukit itu, pada saat itulah beliau bertemu dengan dua orang pemuda yang baik beliau mengucapkan salam kepada pemuda itu. “Hai pemuda, ibuku telah wafat di perantauan aku mohon agar kalian dapat membantuku untuk mengurusi jenazahnya” pinta nabi isa
“Kenalkan aku ini adalah Malaikat Jibril dan yang ini Malaikat Mikail, ini obat tubuh dan kain kafan dari Tuhanmu. Ketahuilah pada saat ini bidadari dari surga sedang memandikan dan membungkus jenazah ibumu pakai kain kafan ini” lalu jibril yang menggalikan kubur ibunya. Setelah mensholati jenazah ibunya lalau merekapun menguburkannya. Kemudian nabi isa berkata “Ya..Allah, hanya engkaulah yang melihat posisiku dan mendengar keluhku. Tiada sedikitpun urusanku yang tersembunyi dari Mu. Ibuku telah wafat dan aku tidak menyaksikan wafatnya. Untuk itu izinkanlah dia untuk berbicara padaku.
Setelah itu datanglah wahyu yang mengizinkan dia berbicara dengan ibunya. Beliau berdiri di makam ibunya seraya berbicara dengan perihatin, “Salam sejah tera wahai ibuku? Sapa nabi isa. Lalu terdengarlah suara dari dalam kubur, “Kekasihku ….duhai buah hatiku…!
“Bunda apa yang bunda peroleh di tempat pembaringan dan tempat kembali ini? Bagaimana pula bunda menghadap Tuhan?” Tanya nabi isa. Aku memperoleh tempat pembarigan dan kembali yang baik aku mendapat Ridha Allah dalam menghadap-Nya.(Syaiful bahri, ada surga di telapak kaki ibu)
Wahai saudaraku hamba Allah, cuba kita renungkan sekali lagi dan ulangi dialok antara ibu nabi isa dengan Malaikat maut,dan ketika nabi isa memanggil ibunya dengan penuh hormat dan taat. Apakah diri kita sudah pernah memanggil ibu dan ayah kita seperti itu? Pertanyan itu hanya kita peribadilah yang dapat menjawabnya, sekarang dengan airmata yang mengalir dipipi kita serulah orang tua kita dengan kasih sayang niscaya Allah akan menyayangi kita
Wahai saudaraku, sungguh kisah diatas dapat membuka kembali hati nurani kita, untuk bersiap menghadapi maut dan berbuat baik kepada orang tua kita karna barang siapa yang berbuat baik kepada mahluk di bumi, maka mahluk di lagit akan berbuat baik kepadanya. Baca dan ulangilah untuk menghayati kisah diatas agar hati kita menjadi lembut seperti nabi isa, penuh perasaan kasih dan sayang karena Allah, Amin.
Oleh: Sarwan kelana al_alaiyi
Mahasiswa UIN, Fakultas Ushuluddin

Tidak ada komentar: