MENYAMBUT MASA DEPAN RIAU
(Refleksi tahun baru 2011)
Oleh: sarwan kelana
Di penghujung akhir tahun 2010, merupakan momen yang sangat menarik. berbagai cara dilakukan untuk merayakannya. masing-masing merayakan dengan beragam perilaku, namun setiap usia punya cara memandang sendiri. untuk usia yang masih muda, baginya tahun baru 2011 adalah sesuatu momen yang mesti dirayakan dengan kemeriahan. pergi bersama teman sepanjang malam hingga pagi hari di tempat yang disepakati bersama. namun, bagi yang telah dewasa, tahun baru bisa dimaknai beragam, seperti meng instropeksi diri apa yang harus di lakukan untuk tahun yang akan datang.
Dalam perjalanan hari, minggu, bulan dan tahun makin berganti tak terasa kita sudah memasuki tahun baru masehi 2011. ini tentu menjadi bahan renungan bagi kita, ketika berada di tahun yang telah lalu, timbul satu pertanyaan bagi diri ini, kota ini dan negara ini apa yang harus di rubah di tahun baru?
Ditahun baru ini ada yang mencoba melihat kesalahan-kesalahan yang dialami dan berfikir lagi ke depan apa yang mesti dilakukan. apakah akan tetap meneruskan apa yang dikerjakannya selama setahun ini atau mungkin selama lima tahun ini atau mungkin lebih dan ingin melakukan perubahan draktis di tahun mendatang. ataukah tetap seperti tahun ini namun dengan sedikit perubahan. Semua bisa menebak apa maksudnya. lebih jelasnya, melakukan instrospeksi diri. Tahun demi tahun berganti dan apakah aku akan tetap seperti ini. Tiada kemajuan sama sekali. ataukah mungkin memang inilah tahun terbaikku karena di tahun ini begitu banyak perubahan lebih baik dan lantas apakah tahun mendatang akan mengalami tantangan yang jauh lebih besar atau tidak.terlepas dari semua itu, merayakan tahun baru akan sangat menyenangkan. biarlah waktu berlalu. meski ungkapan waktu itu ibarat setajam pedang atau pisau. jika tidak hati-hati ke depan entah apa yang terjadi.Tidak ada kata yang lebih tepat selain, lebih keras lagi ataukah mungkin sudah bekerja keras namun perlu ada sedikit perubahan. apakah di tahun ini, target-target yang diimpikan sudah tercapai. lantas di tahun baru nantinya apakah akan terbuka peluang lagi. kemana kaki ini mesti dilangkahkan. Tiada kata lebih tepat selain berharap, semoga tahun baru nantinya kehidupan kita akan lebih baik.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mencipta kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teori boleh mengelakkan penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Julai. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Ogos.
Seperti kita ketahui, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, betik dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam lagenda negara Brazil.
Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau syiling lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
Saat ini, tahun baru 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristien. Namun kenyataannya, tahun baru sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari cuti umum nasional untuk semua warga Dunia.
Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tanggal tersebut, termasuklah kita yang berada di Riau yang merayakan datang nya tahun baru masehi.
Perubahan yang di harapkan
Kita semua berharap ditahun baru yang akan datang pemerintah perovinsi riau lebih melihat keadaan rakyat yang berada di bawah. Namun daripada itu Rakyat perlu juga membawa perubahan, semua perubahan itu adalah sebagian dari sejarah yang dicipta oleh rakyat sendiri. Jadi, rakyat harus terus membawa perubahan demi terwujudnya sebuah perovinsi yang adil dan bermarwah.
Tahun 2011 menanti kita dengan banyak cabaran,satu cabaran yang tidak dapat tidak harus di lakukan adalah pemilihan wali kota dan pemilihan bupati di beberapa kabupaten di tanah lancang kuning ini. Maka kita harus menyambut tahun baru 2011 dengan membuat satu perjuangan dan perubahan. Rakyat harus bersatu untuk membangaun negeri.
Perubahan itu penting, persoalannya adalah kekuatan apa dan siapa sesungguhnya yang bisa mengubahnya. Siapapun bisa belajar dari guru, dosen, ustadz atau siapapun dan juga dari manapun asalnya. Seseorang bisa menambah dan memperkaya ilmu pengetahuan dari mana saja, sebagai bekal untuk melakukan perubahan. Akan tetapi, ternyata perubahan itu tidak akan terjadi, jika dirinya sendiri tidak memiliki niat dan kemauan untuk beraubah. Perubahan dan bahkan juga kekuatan pengubah itu ternyata bukan dari pihak lain, tetapi justru bersumber dari diri sendiri. Saya pernah mendapatkan kesimpulan dari buku motisi yang pernah saya baca : “orang akan jarang mengalami kegagalan, kalau dia keras terhadap dirinya”. Saya renungkan dalam-dalam tulisan itu, dan akhirnya membenarkan. Al Qur’an juga mengatakan : Innallaha la yughoiyyiru ma bi qoumin hatta yughoyyiru ma bi anfusihim . Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mau mengubah diri atau jiwanya sendiri.
Akhirnya semangat perubahan itu memang harus di tumbuh-kembangkan, terutama dalam diri sendiri. Disamping itu pejabat dan rakyat juga harus memiliki azzam untuk melakukan perubahan. Sesungguhnya karena mereka mampu melakukan perubahan pada diri dan atau kelompok yang bersangkutan. Mereka memiliki semangat berubah, mengetahui ke arah mana perubahan itu harus dilakukan, mengerti cara dan jalan perubahan itu dilakukan, termasuk resiko tatkala melakukan perubahan itu, sehingga akhirnya mereka berhasil melakukan perubahan itu. Sementara yang lain, karena tidak memiliki niat dan semangat berubah, maka dari tahun ke tahun bernasib sama, tetap dan tidak berubah. Atas dasar pandangan itu maka betapa pentingnya kita semua selalu membangun semangat untuk melakukan perubahan itu tanpa henti. Kita tak boleh pernah berhenti berharap karena akhir tahun sesungguhnya awal dari sebuah tahun. Mudah-mudahan tahun 2011 ini hidup kita jauh lebih bila dibandingkan tahun 2010. Harapan itu akan terwujud, jika kita sama-sama mau membuktikannya. Allahu a’lam.
Sarwan kelana
Mahasiswa UIN Suska Riau, Fakultas Ushuluddin
Dan Bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru
Minggu, 02 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar